Dalam dunia arsitektur, nilai estetika pada bangunan membuat lebih mudah dikenali, tidak hanya soal keindahan, tetapi juga menjadi cara membangun kesan dan identitasnya. Bangunan dengan desain visual yang menarik lebih mudah menarik perhatian dan antusias pengunjung. Selain itu juga dapat menjadi ikon atau identitas baru bagi suatu tempat. Saat ini di era modern, tempat wisata berbasis visual memiliki nilai jual yang tinggi dalam pariwisata.
Fenomena ini dapat dilihat dari perkembangan wisata yang ada di Indonesia, salah satunya seperti pada Florawisata D’Castello yang terletak di kawasan Ciater, Subang. Wisata berbasis visual yang memiliki konsep bangunan kastil bergaya Eropa Timur, memiliki warna bangunan yang mencolok, konsep jembatan yang menyerupai konsep Golden Bridge di Vietnam, dan juga terdapat patung yang terbuat dari tanaman menyerupai karakter Mickey Mouse. Secara visual, D’Castello berhasil menciptakan kesan unik dan mampu menarik perhatian pengunjung dengan cepat. Sehingga dalam waktu singkat, D’Castello berkembang dan menjadi salah satu wisata yang berdampak pada perekonomian di lingkungan sekitar.


Akan tetapi, dibalik kepopularitasan tersebut terdapat beberapa permasalahan mengenai hubungan bangunan dengan konteks lingkungan dan identitas budaya lokal kawasan Ciater, Subang. Dengan konsep bangunan menggunakan pendekatan Pseudo Architecture (Replika Kastil Eropa) yang hadir di tengah lanskap alam tropis (perkebunan) kurang memiliki keterkaitan dengan karakter wilayah tersebut dan pendekatan desain lebih berorientasi pada reproduksi citra global dibandingkan pengembangan identitas lokal.

D’Castello mulai beroperasi pada tahun 2022 dan sempat menunjukkan jumlah kunjungan yang sangat tinggi pada masa awal pembukaannya. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pengunjung terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Salah satu faktor yang diduga menyebabkan kondisi tersebut adalah karakter ruang cenderung monofungsi yang lebih berorientasi sebagai tempat berfoto dan kurangnya pengalaman ruang yang dirasakan oleh pengunjung. Hal ini menyebabkan pengunjung mudah merasa jenuh sehingga minat untuk melakukan kunjungan kembali menjadi menurun.

Kondisi ini menunjukkan bahwa arsitektur tidak hanya berfokus pada tampilan visual sebagai objek foto untuk kebutuhan media sosial, tetapi juga perlu mempertimbangkan hubungan arsitektur dengan lingkungan dan budaya lokal di sekitarnya. Selain itu, bangunan perlu menghadirkan pengalaman ruang yang dapat dirasakan pengunjung untuk menciptakan kenyamanan dan memiliki ketertarikan untuk kembali berkunjung.
Banyak tempat wisata berbasis visual yang menghadirkan desain arsitektur yang menarik demi mendapatkan perhatian pengunjung secara instan dan meningkatkan popularitas. Popularitas dapat meningkatkan jumlah kunjungan dalam waktu singkat, tetapi belum tentu mampu menciptakan keberlanjutan dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan karena daya tarik utama bangunan hanya berfokus pada tren visual, sedangkan tren akan terus berubah seiring waktu sehingga bangunan berisiko kehilangan relevansi dan daya tariknya.
Arsitektur yang terlalu berorientasi pada popularitas seringkali mengabaikan aspek keberlanjutan. Akibatnya, beberapa faktor seperti pemilihan material, sistem struktur, efisiensi energi dan dampak pada lingkungan sekitar menjadi kurang diperhatikan karena terlalu fokus pada estetika bangunan. Sedangkan keberlanjutan arsitektur ataupun wisata tidak dapat hanya fokus pada estetika atau desain yang menarik saja, tetapi juga mampu merespon kondisi lingkungan agar tetap relevan dalam jangka panjang.
Kondisi ekologis lingkungan yang mengalami perubahan besar-besaran untuk kepentingan wisata berbasis visual demi menciptakan daya tarik pengunjung, berpotensi mengurangi daya dukung lingkungan. pembangunan bangunan yang terlalu berorientasi pada tampilan visual seringkali kurang memiliki hubungan kuat dengan kondisi lingkungan sekitar. Selain itu, bangunan yang tidak dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan, maka bangunan tersebut berisiko kehilangan relevansi dan justru membebani lingkungan.
Oleh karena itu, untuk kedepannya arsitektur tidak hanya berfokus pada popularitas, tetapi pada dampak terhadap identitas lokal, keberlanjutan lingkungan, sehingga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Keberlanjutan tidak selalu identik dengan desain bangunan yang membosankan, melainkan bagaimana sebuah bangunan mampu merespon lingkungan melalui pencahayaan dan penghawaan yang baik, pemilihan material yang tepat, serta penggunaan vegetasi yang sesuai. Faktor-faktor tersebut justru dapat menjadi kekuatan bangunan sekaligus menciptakan hubungan yang lebih baik dengan lingkungan sekitarnya.
Namun, pada akhirnya arsitektur berbasis visual menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pariwisata saat ini. Popularitas lebih mudah menarik perhatian pengunjung dengan cepat dan dapat meningkatkan perekonomian kawasan. Tetapi, keberlanjutan harus menjadi aspek utama agar bangunan dapat terus relevan dan mampu membangun hubungan baik antara bangunan, manusia, dan alam sekitarnya dalam jangka waktu yang panjang.